Suatu hari, saya bertemu dengan seorang mantan playboy kelas kakap. Sebut saja namanya Si Mas.
Waktu kuliah, si mas mengaku punya tiga pacar dalam waktu bersamaan. Dan tidak pernah ketahuan. Kuncinya, si mas ga punya nama panggilan khusus untuk pacar-pacarnya. Semua dipanggil sayang.
"Jadi setiap pagi, sms morning darling nya sama semua. Gw hampir ga pernah salah panggil di sms atau telepon," kata si mas mesam mesem.
Jadwal ketemuanpun dirancang sedemikian rupa, biar engga bentrok. Tapi, namanya manusia, saat si mas sakit, ia didatangi dua pacarnya ke kosan secara hampir bersamaan. Sontak si mas meminta agar pacarnya yang datang belakangan mampir dulu ke apotek untuk membelikannya obat. Lagi-lagi...amanlah dia.
Meskipun bertampang pas-pasan, si mas mampu membuat nyaman setiap perempuan yang ia kenal. Menekan egoisme dan "ngemong" menjadi kekuatan si mas menarik hati para wanita di kampusnya.
"Dulu itu, gw gampang banget lah dapet cewek. Gw juga bingung, padahal yaa ganteng-ganteng amat juga engga. Mereka bilang sik gw ngemong," ujar si mas.
Berbulan-bulan berjalan, si mas merasa jenuh. Sampai akhirnya, ia menemukan perempuan yang betul-betul ia sayangi. Sebut saja bernama Nikita.
Selama pacaran dengan Nikita, si mas tidak pernah punya pacar lain, atau berselingkuh. Si mas sangat menyayangi Nikita. Empat tahun berpacaran, hingga ia meminta Nikita menjadi istrinya, namun Nikita memberikan sebuah tantangan.
"Aku mau nikah sama kamu, kalau kamu kasih aku mobil," kata si mas menceritakan permintaan Nikita.
Si mas kaget, dan tidak menyangka termyata Nikita materialistis. Betapa mungkin seorang yang baru lulus kuliah membelikan pacarnya mobil untuk melamar. Terlebih, saat itu kehidupan keluarga si mas bisa dibilang biasa-biasa saja.
Sambil mencari-cari cara lain agar Nikita mau menikah dengannya, si mas terus menjalani hubungan tanpa kekangan. Ya, tanpa kekangan, tanpa curiga. Karena, si mas bahkan tidak pernah mencurigai atau mengecek hp Nikita selama berpacaran.
Hingga suatu saat, si mas tergerak untuk melihat-lihat hp Nikita yang sedang diletakkan begitu saja di meja kosan, ketika ia sedang membeli makanan.
"Disitu gw lihat Nikita sms-an dengan seorang laki-laki. Mereka kayak orang pacaran. Ahh...disitu princess sedih," cerita si mas menggebu disambut tawaku.
Singkat cerita, mereka putus.
Akhirnya, setelah beberapa tahun bekerja, si mas menemukan seorang calon istri, yang akhirnya ia nikahi. Di mata si mas, sang istri memang bukan perempuan bersolek nan jelita. Namun ia begitu mencintai sang istri, sebut saja Nadya.
Dengan latar belakang masa lalunya, saya to the point bertanya "Terus, lo setia sama istri lo sekarang?," tanya saya.
Si mas menjawab, selama tiga tahun pernikahannya, dia pernah ditelpon Nikita untuk meminta bertemu, menemaninya ke suatu tempat atau sekedar ngopi bareng.
Tapi si mas menampik semua ajakan itu. Ia selalu mencari alasan ingin menjemput istri atau sedang bermain dengan anak.
Jika ada orang yang bilang alasan bertemu mantan adalah karena ada cerita yang belum selesai, pernyataan itu tidak berlaku bagi si mas. Menurutnya, masa lalu ya masa lalu, masa kini adalah bersiap menggapai masa depan yang lebih baik.
Kemudian, saya memperdalam pertanyaan, apa yang membuat si mas memilih setia dengan sang istri, selain prinsip soal masa lalunya itu.
Si mas menjawab, karena sang istri sangat menyayangi orang tua si mas.
"Nadya engga pernah melarang gw memberikan apapun ke bapak dan ibu. Ia bahkan seringkali mengingatkan untuk selalu memberi perhatian ke bapak dan ibu. Begitu pula kami ke orang tua Nadya," kata si mas beraut mendalam.
Si mas bercerita, ia begitu merasa berhutang budi kepada kedua orang tuanya. Orang tua si mas selalu memberikan apa yang ia minta dan tidak minta.
Dengan perjuangan dan tetesan keringat, si mas menyaksikan bagaimana ibunya berusaha memeri jajan.
Sang ibu juga tak lupa memberi belaian dan berpesan "Jangan sakiti istrimu. Jika kau lakukan itu, sama saja kau menyakitiku," kata sang ibu.
Demikian cerita si mas, mantan playboy kelas kakap yang setia setelah menikah, karena sang istri begitu mencintai orang tuanya.
Mudah-mudahan cerita ini bisa menginspirasi para istri lainnya.
Lalu, apa yang bisa membuat sang istri setia pada suaminya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar