Rabu, 24 Oktober 2018

Suamiku, pahlawan ASIku

Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Begitu pula aku dan suamiku. Ketika anak kedua kami lahir, kami bertekad ingin memberikannya ASI eksklusif. Jika saat melahirkan anak pertama ASIku baru keluar dua hari kemudian, Alhamdulillah pada kelahiran kali ini, si dedek dapat langsung meminum ASI.

Dulu, si kakak harus mendapat campuran susu formula saat usianya memasuki dua bulan. Karena kala itu aku dan suamiku kurang ilmu dan pengalaman. Sehingga produksi ASIku yang terbilang sedikit di awal kelahiran, membuat aku terlalu cepat berputus asa.


Kali ini, entah mengapa suamiku memiliki kekuatan dan semangat lebih untuk membuatku percaya bahwa produksi ASIku berlimpah. Ia bertanya, pompa ASI apa yang bagus? Aku kemudian berbincang dengan teman dan adiku. Jadilah kusebut sebuah merek pompa ASI elektrik seharga Rp1,9 juta.

"Ini bagus yank. Tapi harganya lumayan mahal. Udah deh, pake yang manual aja. Kan aku udah punya," ujarku kepada suamiku. Kala itu suamiku hanya tersenyum dalam diam.

Jadilah kami mencoba memompa ASI dengan pompa manual. Kami, ya, kami, aku dan suamiku. Emm...lebih tepatnya suamiku. Sebetulnya aku masih enggan memompa ASI lagi, karena takut produksinya sedikit dan aku kecewa. Tapi suamiku, tak bosan mengingatkan, menyemangati dan memintaku mulai menabung ASI perah.

Saat pertama kali kami mulai memompa. Sesekali suamiku memijat punggungku, memompa lagi dan lagi. Namun hasilnya, ASIPku tidak sampai 20ml. Menurutku itu sangat sedikit. Tapi suamiku punya pandangan berbeda.

"Ini lumayan yank. Kamu hebat. Besok kita pompa lagi ya," katanya sambil memindahkan ASIP dari botol ke kantong ASI.

"Lumayan apanya?!," gumamku.

Dua hari kemudian, datang sebuah paket yang dikirim abang ojek online. Paket berbungkus plastik hitam itu ditujukan untuk suamiku. Karena penasaran, aku mengintip isinya. Ternyata, pompa ASI elektrik seharga Rp1,9 juta yang pernah aku katakan. Ya, suamiku diam-diam memesannya. Bungkusan itu aku diamkan hingga malam hari, hingga suamiku tiba dirumah.

"Paketnya udah dateng ya yank? Kita coba yuk," tanya suamiku bersemangat setibanya dirumah.
"Waduh," kataku yang lagi-lagi belum terlalu siap memompa.

Setelah rayuan maut bernada sedikit memaksa yang dilancarkan suamiku, aku akhirnya dengan tulus setengah ikhlas menyodorkan payudara (pd) untuk dipompa, kali ini secara elektrik.

Kami berdua sama-sama begitu serius memperhatikan tetesan-tetesan ASI yang keluar sesekali. Sampai sesaat tawa kami memecah desingan mesin pompa ASI, ketika menyadari puting pd yang dipompa menjadi semakin panjang dan membesar. Hahaa...bukan bermaksud porno, namun hal ini menjadi satu hiburan bagi kami di tengah kepiluanku melihat hasil pompa yang lagi-lagi tak sampai 20ml. Dan lagi, suamiku berpandangan berbeda.

"Ini lumayan yaank. Besok minta si mba masak katuk ya. Terus aku beliin madu. Kata si ade pake sari kurma juga bagus ya?! Sekalian aku beliin," tutur suamiku.

"Gpp yank, dipompa sedikit..sedikit...kan lama-lama menjadi bukit. Freezernya jadi penuh," tambahnya. Mendengar ucapannya ini, aku mulai bersemangat.

"Oiya yank, si ade bilang pepaya juga bagus. Sekalian beli pepaya ya," ungkapku mulai bersemangat.

Sejak hari itu, aku rutin mengonsumsi berbagai hal yang menurut teman-temanku mampu meningkatkan produksi ASI. Sayur katuk, madu, sari kurma, hingga ASI Booster yang belakangan aku konsumsi.

Suamiku juga memanggil keponakannya yang berprofesi sebagai bidan, untuk mempraktekkan pijat ASI kepadaku.

"Tante, sebenarnya ASI tante banyak ini. Ini ada massa atau gumpalan-gumpalan ASI. Cuma perlu dipijat aja tante. Memang ini bertahap. Di awal-awal melahirkan produksi ASI memang belum banyak, nanti lama-lama juga banyak. Kan perut dedek bayi juga masih kecil. Belum butuh banyak minum," ujar keponakanku.

Suamiku juga meminta adiku, yang sukses memberikan ASI eksklusif untuk anaknya, mempraktekkan cara memompa ASI yang benar.

"Lo kalo lagi mompa, jangan bengong mba. Lo sambil minum yang banyak. Sambil dipencet-pencet pd nya. Titik mana yang ngeluarin banyak ASI. Kalo lo bengong ya sama aja," kata adiku.

Di saat bersamaan, aku juga rutin memberikan ASI kepada di dedek. Pagi, siang, sore malam, diselingi memompa ASI. Lama-lama produksi ASIku mulai meningkat. Hingga hampir sebulan pasca melahirkan, produksi ASIku sekali pompa minimal mencapaj 40ml. Buat ibu-ibu yang produksi ASInya melimpah mungkin angka itu terlalu sedikit. Tapi buatku, itu lumayan. Hhee...

Subhanallah walhamdulillah. Terimakasih suamiku sayang yang tak lelah membangkitkan kepercayaan diriku dalam memberi ASI. Terimakasih juga untuk adiku sayang yang mau berbagi pengalamannya. Terimakasih untuk keponakanku dan teman-teman atas informasinya. Semoga daya upaya ini diberkahi Allah SWT, sehingga produksi ASIku semakin berlimpah.

Untuk para ibu pejuang ASI lainnya, tetaplah percaya dan yakin, bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang yang tak berputus asa. InsyaaAllah...
22 Februari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar