Di atas langit Venesia, 28-5-2018 - Adalah Yossa Suwardini, perempuan yang lahir 2 tahun setelahku. Aku biasa memanggilnya dek, sis, cuy, cong atau nyet. Hahaa...sedemikian dekatnya kami sampai apapun panggilannya menjadi tak berarti.
Sejak kecil, kami sering main bersama. Aku begitu menyayanginya. Hingga ku haramkan air matanya jatuh dengan alasan apapun. Jika itu adalah karena seseorang, ku tak segan menghadapi orang itu sendirian. Atau jika itu karena sesuatu yang dia inginkan, aku akan berusaha mewujudkannya. Apapun agar terus bisa kulihat senyumnya.
Sewaktu kami sekolah di SD yang sama, aku kerap menengoknya di kelas sebelah. Pernah suatu ketika seorang temannya memarahi dia ketika aku sedang masuk ke kelasnya di jam istirahat. Masih kuingat gebrakan meja dan teriakanku kala itu. "Heh, apa-apaan ini?!" Anak itu kemudian diam, mundur dan keluar. Rupanya dia mengadu kepada orang tuanya soal aku yang memarahi dia. Kemudian ku sampaikan bahwa dialah yang mendahului hingga adiku tersayang mengeluarkan air mata.
Kejadian semacam itu bukan hanya terjadi sekali dua kali. Pernah ketika kita sedang mengikuti kegiatan pramuka dan jurit malam, Yossa ternyata lupa memakai dasi pramuka. Kemudian dia menjadi bahan amarah (yang dulu ku tak tau itu settingan) oleh kakak2 pramuka lainnya. Tak tahan ku melihatnya, akhirnya aku berdiri dari barisan lain, kemudian ku berikan dasiku dan memintanya untuk duduk.
Yang kuingat, salah seorang kakak pramuka bilang "ngapain kamu kasih dasi kamu ke dia?!" Dengan tegas ku menjawab "dia adik saya, kalau mau marah, marahi saya, biarkan dia kembali ke barisan," kataku sambil mewek juga. Hahaa...namanya juga bocil.
Terkadang ku heran, dari mana aku mendapatkan kekuatan semacam itu untuk melakukannya. Sama sekali kurasa itu bukan beban. Tapi setelah kuingat-ingat, pesan bapak ketika kukecil menjadi alasannya. "Jaga adikmu!".
Itulah sekelumit masa kecil kami. Begitu seru dan bahagia. Yossa adalah anak kesayangan bapaku. Yaa akupun disayangnya. Tapi kepolosan Yossa membuat kami semua menyayanginya. Hal itu membuat aku senang memanfaatkan situasi.
"Pak, katanya adek mau ke Taman Mini," atau "Pak, katanya adek mau makan KFC,". Jadilah aku penumpang gelapnya ketika si bapak mewujudkan apa yang kukatakan. Meskipun ketika bapak sedang jahil, dia menjawab "yang mau adek apa kamu?!". Hahaa...
Sayangnya, Yossa hanya bisa merasakan kasih sayang bapak hingga usianya 16 tahun, 2 tahun lebih sebentar dariku. Sejak ketiadaan bapak, ku bertekad untuk meneruskan pesan bapaku hingga kami dewasa.
Di masa kuliah, ku senang melihatnya tumbuh semakin dewasa. Ia menemukan teman-teman yang membawanya pada kehidupan baru dan seru. Belajar, bermain, saling mengasihi dan menyayangi. Terimakasih kuucapkan kepada geng Kebo atas hari-hari untuk Yossa yang luar biasa ketika kuliah. Salam MOOoooo....
Kini, Yossa sudah menjadi ibu dari satu orang anak perempuan yang lucunya ga ketulungan. Vanya namanya. Keputusannya menjadi ibu rumah tangga demi memberi ASI eksklusif untuk Vanya sangat kuacungi jempol. Suaminya, Agus Budiono, telah menggantikan tugasku untuk menjaganya.
Bahkan sekarang, Yosaa yang senantiasa menyayangi dan membantu menjaga anak-anakku ketika aku pergi bekerja. Yaa meskipun kadang kejahilannya membuat Elras nangis dan pulang ke rumah karena ngambek. Atau membuat Bima enggan digendongnya.
Di hari ulang tahunku yang hanya berbeda seminggu dengannya, kuingin ucapkan Happy B'day sis. Semoga Allah senantiasa melindungi dan memberkahi kehidupan lo, Agus dan Vanya...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar