Bulan lalu, saat aku, kakak dan adek sedang mewarnai, Elras tiba-tiba cerita. “Eh, Mah...tadi ada Best Student loh di sekolah,” katanya berbinar.
“Ohya?! Di kelas kakak?!,” sambutku antusias.
“Iya, di kelas aku. Tiara dan Fathan,” lanjut Elras saat itu.
“Iya, di kelas aku. Tiara dan Fathan,” lanjut Elras saat itu.
Seketika itu aku berujar dalam hati, wah orang tua mereka pasti bangga anaknya jadi ‘Best Student’. Namun, aku langsung beristigfar. Ya Allah, Elras tetap menjadi anak kebanggaanku. Meskipun dia belum menjadi ‘Best Student’ di sekolahnya.
“Mereka kenapa jadi Best Student?,” tanyaku lagi.
“Yaa mereka baik,” ungkapnya polos sambil mewarnai.
“Mereka pintar ya?! Ga suka lari-lari ya?!,” buruku.
“Iya,” katanya lagi tanpa melihatku karena asik mewarnai.
“Umi yakin, kakak juga bisa jadi Best Student. Kan kakak pintar, ga suka lari-lari. Kakak juga baik. Kalau sekarang belum jadi Best Student ya gapapa. InsyaaAllah nanti ya,” ujarku yang sebetulnya mungkin tak dibutuhkan Elras.
“Yaa mereka baik,” ungkapnya polos sambil mewarnai.
“Mereka pintar ya?! Ga suka lari-lari ya?!,” buruku.
“Iya,” katanya lagi tanpa melihatku karena asik mewarnai.
“Umi yakin, kakak juga bisa jadi Best Student. Kan kakak pintar, ga suka lari-lari. Kakak juga baik. Kalau sekarang belum jadi Best Student ya gapapa. InsyaaAllah nanti ya,” ujarku yang sebetulnya mungkin tak dibutuhkan Elras.
Karena, tak kulihat rasa kecewa di wajahnya. Ia tetap senyum-senyum sambil mewarnai, nyanyi-nyanyi. Mungkin sebetulnya aku yang membutuhkan nasehat itu. Aku yang seharusnya tidak merasa kecewa kepada anaku sendiri. Aku yang seharusnya bersyukur karena telah diberi anak hebat macam Elras. Dan aku yang seharusnya belajar menerima kenyataan dan berusaha menyemangati diriku sendiri untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi. Hari itu, kami menyudahi cerita tentang ‘Best Student’ dan kembali mewarnai.
~
Sebulan kemudian, tepatnya hari ini. Pagi-pagi aku dan abi mengantar kakak ke sekolah, kemudian abi yang sedang libur mengantarku ke tempat liputan. Karena satu dan lain hal, mood ku lumayan kurang baik hari ini. Sehingga kupikir ini adalah hari yang tak membahagiakan bagiku.
~
Sebulan kemudian, tepatnya hari ini. Pagi-pagi aku dan abi mengantar kakak ke sekolah, kemudian abi yang sedang libur mengantarku ke tempat liputan. Karena satu dan lain hal, mood ku lumayan kurang baik hari ini. Sehingga kupikir ini adalah hari yang tak membahagiakan bagiku.
Namun, semua kuserahkan pada Tuhan penguasa alam, Yang Maha membolak balikan hati. Hingga siang hari kuterima kiriman gambar dari abi. Gambar kakak berseragam sekolah dengan label ‘Best Student’ di dadanya.
“MasyaaAllah. Anakku”. Tak kuasa ku menahan tetesan air mata. Ternyata doa dan harapanku diijabah Sang Maha Kuasa. Langsung saja kuhubungi abi lewat video call. Kemudian ku ucapkan selamat kepada buah hatiku.
“Selamat ya sayangku..cintaku...tanah airku...,” mendengar ucapanku, kakak hanya nyengir-nyengir sambil mengunyah nasi yang sedang disuapi mba khur.
“Bilang, makasih ya umiik..,” suara mba khur sayup-sayup terdengar dari belakang. Sementara Elras masih dengan cengirnya.
Entah, apakah lagi-lagi ia telah mengerti dengan predikat yang baru saja membanggakan aku dan abi itu atau belum. Namun satu hal yang kumengerti, kebangkitanku dari kelaraan tempo hari ternyata membuahkan hasil.
Ku memilih untuk tidak memarahi kakak karena kala itu dia bukan ‘Best Student’. Aku juga memilih untuk tidak membandingkannya dengan murid lain. Kuhanya bersyukur memiliki kakak, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Cintaku tanpa batas untuknya. Tak terukur oleh label apapun yang melekat pada dirinya. I love you kakak. Terimakasih atas perasaan ini. Semoga tetap menjadi anak baik nan salihah sayangku cintaku tanah airku. 😘
Sept 24, 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar