Jakarta, 15/4/2018 - Pagi ini, abi, Elras dan Bima pergi ke pasar. ‘Loh kok umik ga ikut? Karena umik harus kirim berita pagi, jadi ngetik di rumah. Mba Khur mana? Mba Khur masih di kampung halaman karena suaminya tutup usia.’
Jadilah abi mendorong Bima yang duduk di stroller sambil berjalan beriringan dengan Elras menuju pasar untuk beli sarapan. ‘Kok ga masak? Sudah dimasakin ibu-ibu di pasar, kasian kalau engga dibeli.’
Sekitar 20 menit kemudian, rombongan itu kembali dari pasar. Membawa dua bungkus bubur bayi, dua bungkus bubur ayam, sebungkus nasi uduk dan sebuah balon biru bergambar Princess Elsa.
Kakak Elras memegang erat ujung tali balon yang diikat batu kecil itu. “Mamaa aku dibeliin abi balon,” matanya berbinar saat masuk ke pintu. ‘Kok mama? Yaa, Elras lebih senang memanggilku demikian ternyata...
Kakak senang sekali dibelikan balon. Apalagi ketika abi melepas batu kecil diujung tali dan menggantinya dengan pita yang lebih panjang agar bisa terbang hingga menyentuh atap rumah.
Kakak berkali-kali menerbangkan balonnya kesana-kemari. Kemudian meloncat untuk meraih ujung pitanya. “Lihat maa, aku nyampe kan, tapi harus loncat sedikit,” teriaknya berulang kali.
Sepanjang hari ia terus bermain dengan balon Elsa. Pagi, siang, malam...meloncat, berlari, berteriak dan berkeringat. Tak lupa tersenyum dan tertawa setelahnya.
Sorenya, tiga orang teman kakak main ke rumah. Mereka juga ingin melihat balon yang dimiliki kakak. Ketiganya membawa balon itu ke teras rumah. Mereka meminta kakak menerbangkan balonnya ke langit. “Ini dibeliin abi aku. Jangan diterbangin ke langit, nanti abi aku marah,” katanya saat itu. Jadilah “si elsa” masuk lagi ke dalam rumah.
Keesokan harinya, seperti biasa, teman-teman kakak kembali bermain di rumah. Tapi, kakak masih tidur. Kemudian mereka menunggu kakak bangun sambil makan permen dan menonton televisi. Sementara abi kerja, umik memandikan Bima, memakaikan baju, mengejar Bima yang enggan dipakaian baju, memakaikan celana, mengejar Bima yang enggan pakai celana dan begitu seterusnya.
Sampai akhinya adek Bima yang sudah segar dan wangi, menemani kakak-kakak cantik yang sedang menunggu Elras bangun.
Akhirnya, pukul lima sore Elras bangun. “Waah Elras bangun. Hayuuk mandi terus kita main,” kata salah seorang temannya. Elras kemudian bergegas ke kamar mandi. Yang mandikan siapa? Umik dong. Bima? Ya digendong.
Setelah kehebohan di kamar mandi karena harus menggendong sambil memandikan kakak, akhirnya mereka main bersama. “Si elsa” kembali menjadi sasaran permainan mereka.
“Yuk main di luar,” kata salah seorang teman kakak sambil menarik “si elsa”. Tak lama kemudian, ia tersandung lalu ujung tali yang dipegangnya terlepas. Jadilah “si elsa” terbang ke langit dengan bebasnya.
“Yaah yaaahhh...balon akuuu....” teriak kakak ketika melihat “si elsa” berayun-ayun di udara. Ia terpana, sambil tak bisa berkata-kata. Matanya seakan enggan terlepas dari balon kesayangannya. Ketiga kawannya dan aku yang sedang menggendong Bima juga menjadi saksi kepergian “elsa”.
“Yaahh balon aku terbang. Gara-gara kamu sik...” kata Elras menahan amarah.
“Sudah-sudah gpp ya. Relain balonnya terbang. Sekarang salaman. Maaf-maafan ya,” ujarku kepada mereka.
Elras kemudian mengulurkan tangan terlebih dahulu. Ia memang sangat familiar dengan saling memaafkan. Kemudian temannya menyambut tangan Elras tanpa berkata-kata.
“Ini sudah mau magrib, kita masuk ke rumah dulu yuk. Besok main lagi,” sambungku.
Aku, Elras dan Bima masuk ke dalam rumah. Kawan-kawan Elras pun pulang ke rumah. Adzan magrib berkumandang saat aku, Elras dan Bima duduk di depan televisi.
Setelah adzan selesai, Elras kemudian melihat ke arahku. Air matanya mulai becucuran. Bibirnya yang biasa tersenyum , berubah melengkung ke atas alias mewek. “Balooon akuuu....Balon aku maaa...,” katanya sambil memelukku.
“Iya, sudah gpp. Relakan ya. Mungkin elsa memang maunya terbang,” ujarku berusaha menenangkan. Tapi tampaknya tak berhasil. Elras masih terus menangis. Aku tak ingin bilang “besok kita beli lagi ya”. Karena aku ingin dia mengerti rasanya kehilangan. Jadi, lain kali dia bisa lebih berhati-hati menjaga apa yang dimilikinya.
Kami kemudian mematikan televisi dan masuk kamar. Elras masih sedikit menangis. Padahal Bima sudah ikut menciumnya, memeluknya.
Di kamar, tiba-tiba Elras kembali histeris. “Loh, kok nangis lagi, kenapa?,” tanyaku. Dia kemudian menjawab hal yang lumayan mencengangkan bagiku sambil menangis dan sedikit berteriak. “Aku masih sayaaang sama balon ituuu,” katanya.
Mendengar ia mengatakan itu, aku tak kuasa untuk bilang. “Iya, besok kita beli lagi ya...”. Huhuuu...sulitnya emak-emak baper menghadapi anak yang lagi sedih-sedihnya.
Tapi, kurasa Elras memahami apa arti memiliki kini. Meskipun mungkin besok pagi sudah lupa lagi. Elras kemudian memintaku menelpon abi. Tapi kala itu abi sedang sibuk, jadilah teleponnya tidak diangkat.
Setelah tahu ceritanya, dua hari kemudian abi ke pasar. Dan membawa balon bergambar little poni yang diinginkan Elras. Meskipun elsa tak tergantikan, yang terpenting “little poni” juga bisa terbang. Tapi terbangnya di rumah aja ya, jangan ke langit lagi. Mamak tekoor inii....😅

Tidak ada komentar:
Posting Komentar