Siang itu, ketika kami sedang berleha-leha di kamar, terdengar suara kemerusuk di pinggir kasur. Ternyata si kakak sedang anteng bermain sendiri. Sementara si ade, asik ngoceh-ngoceh di atas kasur sambil ditemani abi dan aku.
Waktu menunjukkan aku harus bersiap-siap liputan. Aku bangun hendak mandi dan bersiap-siap. Namun, belum sampai kaki ini melangkah, kulihat lipstikku terbuka. Si kakak ternyata sedang bermain-main dengan tas kerjaku. Lipstiku...kenapa lipstik mahalku terpisah dari tutupnya?!
Saat kuambil dan kuamati, ternyata ada gumpalan lipstik di dalam tutup. Dan, lipstik kesayanganku...lipstik kesayanganku kini menjadi buntung. Kulihat bocah perempuan diujung kasur melongo. Tak ada tersangka lain, anak cantiku satu-satunya ini pastilah pelakunya.
"Kakaaak...kenapa lipstik mahal umi jadi buntung ginii?!" Kataku menahan marah.
Selanjutnya, aku diam seribu bahasa. Memandang si kakak, yang juga sedang memandangiku. Hingga akhirnya kutaruh begitu saja lipstik yang lumayan berantakan wujudnya itu. Kupandang si kakak dengan wajah marah, kemudian kutinggal masuk ke kamar mandi untuk bersiap2.
Kakak mengejarku...
"Umiiii...umiiii....," setengah menangis.
Tak kupedulikan. Kututup pintu kamar mandi. Namun ia tetap menggedornya.
Kakak memang selalu tak tega melihatku marah. Ia akan merasa bersalah, hingga aku memaafkannya.
Singkat cerita...
Kuajak si kakak duduk bersama.
"Kakak, merusak barang orang itu engga baik. Engga pintar. Kakak engga boleh rusak barang umi, barang abi. Semua perlu kakak jaga. Kalau lipstik umi rusak, memang kakak bisa ganti? Kakak punya uang buat belikan umi lipstik?"
Si kakak memperhatikan dengan seksama. Beberapa saat, dia ngeloyor keluar kamar.
Tak lama kemudian, dia masuk lagi.
"Iniii...ada uang," dibawanya uang sisa belanja kepadaku. Selembar 20.000an, tiga lembar 2.000an dan lima keping uang logam 500an.
"Ini untuk apa?," tanyaku.
"Katanya mau beli lipstik. Ini uangnya, lihat deh. Banyak...cukup buat mengganti lipstik umi," ujar si kakak.
Hati mulai luluh, mata mulai ngembeng. Abi juga kelihatan mulai terharu.
"Memang itu uang siapa,?" Tanyaku lebih lanjut.
"Engga tahu. Coba aku tanya bude tika. Budee tikaa, ini uang siapa?," tanyanya pada bude tika.
"Bude tika engga tahu, El?," jawab si bude.
"Mba Khuur...ini uang siapa?," terus berusaha mencari empunya Rp28.500 itu.
"Itu uang umi kak, tadi kembalian belanja," jawab Mba Khur.
"Ohh..umi..ini uang umi. Hihii...ternyata uang umi..hihii...yaudah nih beli lipstik," tukasnya sambil menyodorkan uang itu kepadaku.
Rasanya mau ku unyel2 si sulung yang super MasyaaAllah ini. Atau izinkan aku menggigit pipinya. Atau ketiaknya...ujian kesabaran ini sungguh terlalu menggemaskan...
Tapi, dari kejadian itu, aku tahu kenapa kasih ibu sepanjang masa, meskipun sang anak telah merusak lipstiknya. Atau memecahkan bedak pemberian ayahnya. Atau menumpahkan minyak wangi yang asli dibeli di mall.
Karena anak-anak jauh lebih berharga dari itu semua. Jauh lebih bernilai ketimbang barang termahal yang ada di dunia. Karena anak-anak adalah anugerah yang memiliki kekuatan untuk membuat hati ini bangga dan haru. Perasaan yang tak akan pernah ada ketika kita membeli sesuatu, betapapun berharganya itu...
"Bii..abii...lipstik umi rusaak ni..."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar