Yogyakarta, 30/3/2018 - Suatu hari, saya main ke rumah mantan pacar semasa sekolah, yang kini menjadi teman. Tidak hanya dengan si mantan, saya juga kenal baik dengan kedua orang tuanya. Saya memang tidak sepercaya diri Milea yang memanggil orang tua Dilan dengan sebutan bunda dan ayah. Saya memanggil mereka om dan tante.
Semasa pacaran dulu, saya seringkali ngobrol dengan tante atau si om di telepon, ketika si mantan sedang tidak di rumah. Kami sering bercerita apa saja. (Kalau ini baru mirip Milea 🤪). Tentang pelajaran di sekolah, tentang senangnya mereka karena si mantan dekat dengan saya.
“Iya, jadi rajin belajar dia dekat kamu. Nilainya juga bagus-bagus,” kata si tante suatu hari. Mendengarnya, saya hanya senyum-senyum tersipu di ujung telepon.
In a ‘ge-er’ way, saya jadi salah satu mantan anaknya yang paling disayang (ini udh di confirm, katanya “ya bener sih”). Hahaaha...
Orang tua saya juga termasuk yang dekat dengan si mantan. Almarhum bapak saya bahkan punya panggilan sendiri untuk si mantan. Hihiii...jadi lucu kalo ingat nama panggilannya. Jadilah kedekatan itu terbawa sampai kita tak lagi berpacaran.
Saat main ke rumahnya, saya bertemu si om. Saya lupa tepatnya kapan, tapi sepertinya di masa kuliah. Kami mengobrol. Si om cerita tentang masa-masa perkenalan dengan tante, sampai menikah dengan dua cara agama, karena waktu itu si tante masih berbeda agama. Hingga kemudian tante memutuskan untuk menjadi mualaf ketika si mantan lahir.
Kemudian, si om bertanya. “Om mau tanya, Sella kalau sudah berkeluarga dan mengalami kesulitan materi, dan hanya ada televisi dan mas kawin di rumah, Sella akan jual yang mana untuk makan?,” tanya si om padaku yang saat itu masih belum terbayang bagaimana bentuknya mahligai rumah tangga.
“Emm...televisi kayaknya om. Kan sayang kalo mas kawin, jadi kenang-kenangan kan?!,” jawabku kala itu.
Kemudian dengan senyumnya yang khas, om menimpali jawaban saya tadi.
“Kalau om, om akan jual mas kawinnya,” tukas si om.
“Kenapa? Engga sayang?,” tanyaku.
“Karena di tengah kondisi sulit, kita tetap butuh hiburan. Menonton televisi itulah salah satunya. Kalau televisinya dijual, lalu bagaimana ada hiburan sebagai pelipur lara?! Kalau emas kan bisa dibeli lagi kalau sudah ada uang,” ungkap si om menerangkan.
Untuk anak kuliahan seperti saya ketika itu, nasehat tersebut memang belum terasa manfaatnya. Namun, beda cerita ketika saat ini sudah berjalan enam tahun menjalani hidup berumah tangga.
Menurut saya, kecuali keluarga Nia Ramadhani atau Ashanty, sebagian besar rumah tangga pasti pernah mengalami masalah materi.
Lalu apa kemudian yang harus dilakukan, apakah menjual mas kawin atau televisi?!.
Menurut saya yang pernikahannya masih seumur jagung manis, dalam situasi apapun yang terpenting adalah komunikasi. Artinya, kalau kita ingin menjual televisi ya komunikasi dulu, atau ketika ingin menjual mas kawin ya dibicarakan dulu. Meskipun mungkin ujung-ujungnya ada yang harus dijual. Haahaa...
Merujuk pada nasehat si om, dalam kondisi tersulit sekalipun, suami dan istri perlu sama-sama saling menghibur, saling menguatkan atau saling pengertian. Kalaupun sang istri yang jauh lebih emosian, tugas suamilah menjadi penenang. Demikian pula sebaliknya. Ya, bicara memang mudah, tapi ketika masanya tertimpa, mungkin teori berdasarkan pengalaman ini juga menjadi sia-sia.
Yang paling ideal memang nasehat mama, kalau bisa jangan dijual, tapi beli dan beli lagi. Hahaa...ideal bukan?! Tapi nasehat ini memang sepatutnya menjadi pertimbangan untuk terus bekerja keras dan berdoa, agar segala kecukupan membawa berkah dalam keluarga.
Saya juga yakin, setiap keluarga pasti memiliki cara tersendiri untuk keluar dari masalah materi. Semoga dengan cerita singkat ini, terbersit sedikit inspirasi untuk mencari solusi di tengah cobaan materi.
Sebagai anak yang senang mendengar nasehat, saya ingin berterimakasih kepada si om. Semoga om dan tante selalu sehat dan bahagia. Dan segera diberikan menantu yang cantik rupa nan hatinya. (Doa buat lo ni bro 😆)...
Eeh dia jawab “Amiiinnn...”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar